SURGA vs NERAKA

Posted: 25 March 2009 in Campur Aduk

Ternyata, Neraka Lebih Menarik Daripada Surga?
Diterbitkan April 7, 07 Afterlife , Deisme , Opini , Teologi
Tags: Islam, Judaisme, Kristianitas, Paradoks
Suatu ketika saya dihadapkan pada sebuah pertanyaan yang dilontarkan oleh isi kepala saya sendiri. Pertanyaannya cukup bombastis; mana yang lebih menarik, neraka atau surga?

“Tentu, saya ingin ke surga.
Tapi, keinginan untuk pergi ke surga itu jauh lebih kecil,
dibandingkan dengan keinginan untuk menghindari neraka.”
Tentunya, pikiran cepat yang terlintas adalah surga. Pikiran itu terlintas begitu cepat — seakan-akan jawaban bahwa ‘surga itu lebih menarik daripada neraka,’ adalah sebuah aksiom sederhana. Bunyinya ya begitu; surga lebih menarik daripada neraka.
Apa benar?
Mungkin tidak.
Pada dasarnya, hal yang ‘menarik’ adalah hal yang lebih sering kita berikan perhatian. Pikiran kita sering didedikasikan supaya tertuju ke sana. Dan, konsekuensinya, telinga kita menjadi lebih sensitif apabila namanya disebutkan, serta intuisi kita menjadi lebih aktif menghubungkannya dengan peristiwa-peristiwa lain.
Kalau caranya seperti itu, jujur saja, neraka lebih menarik buat saya.
Sebab, pikiran saya jauh lebih sering digunakan untuk memikirkan neraka, ketimbang surga. Jauh lebih sering. Karena kenyataannya, saya tidak terlalu sering berkhayal tentang kenikmatan yang ditawarkan oleh surga — sebaliknya, saya sering sekali merasa cemas tentang siksaan yang kerap kali dipromosikan oleh neraka. Ini terkadang membuat saya berpikir. Barangkali, motivasi terbesar saya untuk menginginkan surga adalah semata-mata karena surga adalah satu-satunya alternatif neraka. Karena, kalau tidak mau ditendang ke neraka, satu-satunya jalan adalah meraih surga.

Surga sebagai pelarian
Coba kita buat satu alternatif lain selain surga dan neraka, barangkali penghapusan eksistensi? Ya, keyakinan ini dianut oleh beberapa aliran kepercayaan, seperti Jehovah’s Witnesses pada konteks Kristiani. Bagaimana kalau seandainya doktrin yang disuapkan ke mulut saya adalah yang seperti itu? Alternatifnya adalah masuk surga dan bahagia selamanya atau hilang sama sekali. Kalau sudah begitu, barangkali saya akan berbuat seenaknya di dunia ini. Sebab dosa itu nikmat. Tidak masuk surga pun tidak apa. Yang penting, tidak masuk neraka
Jadi, fungsi surga itu terkadang hanya sebagai pelarian supaya tidak nyungsep ke dalam api neraka. ‘Kebetulan’, surga itu menyediakan kenikmatan yang tiada tara. Padahal sebenarnya, kalaupun surga itu menyerupai dunia, tidak apa. Lebih baik bukan, ketimbang dipanggang di neraka? Hal ini menjadikan kenikmatan surga itu hanya sebagai ‘bonus’ saja. Sebab fungsi utama surga bagi banyak orang mungkin hanya sebagai alat supaya bisa menghindari siksaan. Sebagai suaka.
Surga dan neraka: Analogi duniawi
Apa konsep seperti ini bisa diterima? Bisa saja, misalnya dibawa ke konteks berorganisasi. Terdapat contoh sederhana; yaitu dalam bersekolah/berkulia h. Tapi mari kita ambil contoh rumit; bernegara. Pada keduanya, konsep ‘neraka’ juga berhasil unggul dibandingkan konsep ‘surga’.
Analoginya, berapa orang dari kita yang tertarik mendapatkan medali-medali penghargaan sebagai warga negara budiman? Kalaupun niat itu ada, tentunya ketertarikan itu jauh lebih kecil dibandingkan dengan rasa takut menjadi buronan negara
Hal yang bisa disimpulkan sejauh ini, bahwa manusia cenderung lebih menghindari penderitaan, daripada meraih kebahagiaan. Mungkit sifatnya duniawi, tapi juga manusiawi — dan itu bakal terus dipakai sampai ke akhirat kelak.
Rahasia umum
Kebanyakan orang sudah menyadari kecenderungan ini. Gejala-gejalanya sudah tampak dari jauh-jauh hari. Para imam dan ustadz, atau pemuka agama secara keseluruhan, kebanyakan lebih tertarik mendakwahkan sekarung laknat — liang kubur yang terus merapat, mayat yang terlipat, serta jasad dengan belatung yang menggeliat. Dahsyat.
Umat pun terpana dibuatnya. Bayangan neraka pun (menurut saya) tervisualisasi melebihi kadar keperluannya. Imbasnya, penggambaran neraka (dan surga) pun menjadi lebih ‘duniawi’. Kesengsaraan neraka pun entah sejak kapan divisualisasikan sebagai siksaan a la dunia (dan kenikmatan surga pun menjadi kenikmatan a la dunia). Padahal, semuanya masih abstrak. Apa penyebabnya? Ketakutan. Paranoia.
Wajar, siapa yang mau dilaknat di neraka? Apalagi selama-lamanya. Bayangkan. Selama-lamanya. Penderitaan yang abadi.
Paradoks manusia
Sebenarnya kalau dipikirkan lebih jauh, mungkin tidak satupun dari kita yang pantas ditraktir selamanya menikmati surga. Tidak ada. Kuncinya adalah ‘selamanya’ itu. Hadiah tanpa batas hanya pantas diberikan pada amalan tanpa batas. Amalan tanpa batas hanya mungkin diwujudkan dengan waktu tanpa batas. Kesimpulannya, hanya orang yang hidup selamanya dan terus berbuat baik yang pantas dihadiahkan surga. Tapi, apabila dia hidup selamanya dan terus berbuat baik, kapan dia mesti dihadiahkan surga? Satu-satunya opsi yang memungkinkan adalah terus berbuat baik sambil mengamalkan surga. Tapi paradoks ini terus berlanjut — berusaha berbuat baik sebagai bentuk dari usaha, seharusnya tidak ada di surga.
Dan sebaliknya, tidak satupun dari kita yang pantas dihukum selamanya di neraka. Hukuman tanpa batas hanya pantas dijatuhkan atas dosa tanpa batas. Dosa tanpa batas hanya mungkin dilakukan dengan waktu tanpa batas. Lalu, tentunya hanya orang yang hidup selamanya yang pantas dihukum selamanya. Dan tidak mungkin, orang melakukan dosa (yang kebanyakan nikmat tersebut) sambil disiksa di neraka.
Pada saat seperti inilah, pandangan apa yang diambil tergantung pada pandangan kita pada yang Maha Penguasa sendiri. Ada dua atribut yang berperan di sini; atribut-Nya sebagai Maha Pengasih (dan Maha Pemaaf) serta sebagai Maha Adil. Segala bentuk hukuman dari Allah adalah refleksi dari sifat Maha Adil tersebut. Allah tidak kejam. Hukuman adalah konsekuensi dari keadilan. Lalu?
Berarti, suatu ketika pahala yang diperbuat penghuni surga akan impas dibayar Allah melalui jamuannya di surga.
Dan, suatu ketika dosa yang diperbuat penghuni neraka akan terbayar melalui siksaan yang diterimanya.
Sifat Maha Adil-Nya pun terpenuhi.
Setelah itu? Terserah pandangan anda tentang-Nya. Kalau menurut saya, saat inilah sifat Maha Pengasih-Nya akan berperan Semuanya tergantung anda mau melihat Tuhan anda sebagai diktator megalomaniak yang punya kekuasaan tiada batas, atau sebagai zat Maha Segala-galanya yang mengandung segala kebaikan, tanpa batas.
Kalau saya boleh memilih
Katakanlah besok amalan saya tidak cukup dan saya sudah hendak dicemplungkan malaikat ke arah neraka. Kalau saya diperbolehkan untuk memilih, saya lebih memilih buat dihapus saja. Tuhan bisa membuat saya, tentu juga bisa menghapus selamanya. Hapus saja. Shift+delete, enter. Lenyap tanpa sisa. Kalau sudah dihadapkan pada yang seperti itu, saya sudah tidak peduli dengan yang namanya surga. Kalau saya ternyata hendak dilempar ke neraka selama-lamanya, kemungkinan saya tidak akan minta surga lagi. Persetan. Hapus saja saya, hilangkan. Saya lebih suka begitu.
* * *
Saya akui, saya lebih tertarik pada neraka dari pada surga. Saya lebih sering memikirkan neraka, dan berusaha menghindarinya, ketimbang memikirkan dan mendambakan surga. Tertarik tidak berarti menginginkan bukan? Analoginya barangkali aktivis wanita yang tertarik pada masalah kekerasan rumah tangga… Bukan berarti dia menyukai perbuatan bejat tersebut.
Jadi, begini. Saya ingin masuk surga. Ingin sekali. Tapi keinginan itu jauh lebih kecil dibandingkan dengan keinginan saya untuk menghindari neraka. Jadi, kalau saya tidak akan dimasukkan ke surga, lebih baik hilangkan saja. Apa sulitnya menghilangkan sebuah eksistensi?

buat renungan manusia
copy paste dari blog temen (lupa nama blognya…)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s