Cerpen Mantan Pacarku di Malang (Mama gak Marah to??) “ANGGA, KUCING dan BU ROSALINDA”

Posted: 5 May 2009 in Angga n Alvi, Puisi dari Kita untuk Kita

Wah, udah beberapa hari lagi males ngunjungi Blog… sebenre gak ada pekerjaan apa2, banyak pikiran ya… ditambah lagi seneng otak-atik FB. xixixixix. ya udah de, berikut cerpen dari “Novi Anggareni Setyaningtyas” yang dulu pernah singgah di kehidupanku, menemani masa remajaku di Malang…(hiks, kangen juga sebenere, kangen ama tempe gorengnya… xixixixi).

ANGGA, KUCING dan BU ROSALINDA

Waktu Bu Rosalinda menginjakan kaki di pintu kelas, kelas yang semula ramai seperti pasar langsung berubah sepi seperti kuburan. Bu Rosalinda itu wali kelas sekaligus guru mata pelajaran fisika. Sebenarnya nama aslinya adalah Bu Marlina tetapi karena beliau hoby nonton telenovela sehingga dia meminta murid – murid memanggilnya Bu Rosalinda, memang sih sedikit nyerempet. Padahal Bu Rosalinda itu orangnya pendek, berambut keriting dan berkulit hitam.Nggak ada miripnya sama sekali sama artis telenovela Thalia……(he….)
“Anak – anak ! Masukkan semua buku Fisika kalian! Hari ini kita ulangan !!!” lantang Bu Rosalinda dan langsung disambut huu…..oleh siswanya.

Yah!! begitulah Bu Rosalinda memang sukanya ngerjain siswanya, dan membuat siswanya marah, sebel dan kelabakan. Bu Rosa(panggilan akrabnya) memangnya paling suka kalau ulangannya seperti ninja. Maksudnya diam – diam dan tanpa sengaja. Ketika semua siswa sibuk untuk ngeluarin kertas ulangan dan bolpint. Tiba–tiba mereka dikejutkan oleh suara ketokan pintu.
Angga memberanikan diri untuk masuk kedalam kelas dan menghampiri Bu Rosa.
“Permisi Bu!!”
Semua siswa melihat ke arah Angga. Angga hanya garuk-garuk kepala saja, semua orang memandangnya seolah-olah dia adalah barang langka.
“Ada apa? Siapa kamu?”tanya Bu Rosa sambil mendelik dengan kaca matanya yang tebal.”Oh kamu pasti murid baru itu ya ?”Bu Rosa meneliti Angga dari ujung rambut sampai ujung kaki.
“I-ya !saya murid baru pindahan dari Medan itu !. Saya-saya terlambat Bu ? Sa-Saya ada urusan mendadak Bu ?”Angga menunduk.
“Kecelakaan ??”Bu Rosa tersenyum sinis.” Kok nggak ada yang luka ? Kamu murid baru aja sudah berani berbohong !”.
Angga bergumam.Guru yang didepannya killer habis. Beliau nggak percaya kalau dia kecelakaan. Dan Angga nggak bisa membantah guru itu. Dia memang ada urusan, tapi nggak begitu penting. Tapi yang jelas dia kesiangan. Angga menelan ludah dan menunggu apa yang akan menimpa dirinya.
Pada saat genting tiba-tiba tas punggungnya bergerak-gerak.
“Apa itu ?” Bu Rosa makin melotot
“ Ini anak kucing Bu !”
Bu Rosa kontan ngakak. Tentu beliau nggak percaya begitu saja, demikian juga para siswa. Mereka menganggap Angga sedang bercanda.
“Benar Bu ! Ini anak kucing !” Angga bingung. Dia nggak mau dianggap bohong lagi. Makanya dia langsung membuka tas punggungnya.
Jreng!seekor anak kucing hitam yang sedang memamerkan cakar kukunya dan gigi taringnya. Para siswa terkejut. Tapi yang paling heboh adalah bu Rosa, tiba-tiba dia menjerit-jerit, naik ke atas kursi guru dan lompat-lompat nggak karuan. ”Sudah! Sudah! Masukkan hewan keparat itu ke dalam tasmu! Cepat!” teriak bu Rosa.
Angga melongo, begitu juga para siswa. Angga menuruti perintah bu Rosa.
“Sudah! Sana duduk di kursimu!” hardik bu Rosa dengan wajah pucat pasi. Bu Rosa turun dari kursi guru. ”Ulangan ditunda!” teriak bu Rosa lalu ngeloyor keluar kelas. Bu Rosa berjalan cepat menuju ruang guru. Beliau nggak peduli murid-murid bertanya tentang gurunya. Wajah bu Rosa masih pasi dan beliau malu banget.
“Gara-gara murid baru itu aku jadi begini! Aku tidak akan memaafkanmu, Murid baru!” dendam bu Rosa.
Sementara itu di kelas 2-B, Angga duduk dengan seorang anak yang gendut banget di kursi belakang.
“Hallo aku Fajar! Tapi teman-teman memanggil aku Gembul!” sapa cowok itu.
“Kamu tadi hebat banget, bisa membuat bu Rosa menggagalkan ulangan! Aku nggak percaya ada anak seperti kamu di kelas kita,” gembul kagum.
Angga tersipu malu. Semua siswa memandang ke arahnya Angga memeluk tas memeluk tas punggungnya.Kucing kesayangannya itu tiba-tiba mengikuti Angga ke sekolah tanpa sepengetahuannya. Sebenarnya Angga pingin ninggalin binatang kesayangannya itu di pintu gerbang, tapi dia takut kucingnya hilang. Kucing itu adalah teman setianya semenjak kematian kedua orangtuanya. Kucing itu adalah sahabatnya ketika dia merasa kesepian, dan gara-gara kucing itupun dai bisa lepas dari guru killer itu.
Esok harinya mendadak kelas sunyi-senyap ketika suara sepatu Bu Rosa mengetuk lantai kelas.
“Bab tiga buka!!”teriak Bu Rosa tanpa basa-basidulu,seperti biasa, yang nggak biasa sekarang Bu Rosa jadi sering berdiri dekat meja Angga.
Angga jadi serba salah. Dia nggak bisa bergarak sedikit pun. Lha ketahuan merem sedikit saja, bu Rosa langsung meneriakinya dan memberinya pertanyaan.
“Angga!!” tembak bu Rosa,”Jawab pertanyaan ini!, Bagaimana jika ada perkalian (–) dan (+)!”
Sebenarnya anak SD saja bisa menjawab, tapi karena Angga shock diperhatikan bu Rosa terus otaknya jadi butek. “Ya dikalikan saja, Bu!”
Siswa-siswa semua tertawa. Bu Rosa merah mukanya. Beliau merasa dipermainkan Angga. Pada kesempatan yang lain, bu Rosa melihat Angga sedang menguap waktu pelajaran, bu Rosa langsung memekik. “Angga!!!, apa perbedaan grafitasi bumi dan grafitasi bulan?”
Angga garuk-garuk kepala dari tadi perasaan cuma dia yang dikasih pertanyaan. Angga jadi bingung.”Kalau di bulan yang ada hanya gravitasi bulan saja bu sedangkan kalau gravitasi bumi adanya hanya di bumi saja, Bu!!”jawab Angga asal-asalan.
Siswa-siswi ngebom tawa lagi.Kelas jadi ramai dan siswa-siswi malah kesenangan.Karena mereka merasa pelajaran berubah menjadi hiburan. Mereka menunggu-nunggu Angga menjawab dengan lucu.
“Angga!! Push-up 20 kali didepan!”perintah Bu Rosa.
Angga terperanjat.Angga nggak nyangka hukuman nggak bisa njawab,bisa sekejam itu.Tapi dia nggak bisa membantah.Dia nurut saja push-up,meski tubuhnya naik turun seperti ular. Pelajaran ini benar-benar menyiksa Angga lahir batin.
Siswa-siswi memandang kasihan sama Angga.
Esok harinya,Angga disemprot Bu Rosa lagi karena ketahuan sedang menggigit-gigit pulpen hingga bikin berisik di kelas. Kalau tegang, Angga jadi pengen menggigit-gigit apa saja. Termasuk pulpen, Bu Rosa menggeram.
“Angga!Kamu keterlaluan! Lagi-lagi kamu bikin keonaran di kelas dan hukuman buat kamu adalah menulis kata maaf seratus kali dan harus dikumpulkan besok!!”
Angga terkejut mendengar hukuman itu. Tapi lagi-lagi dia tidak bisa menolak hukuman yang yang diberikan oleh Bu Rosa. Angga lemas dikursinya.Dia merasa tugas itu berat, tapi untung teman-temannya berbisik akan membantunya. Setelah sekolah berakhir, siswa kelas 2-B ramai-ramai nggak pulang,mereka mengganggap Bu Rosa itu otoriter,arogan!dan kelewat bengis terutama pada Angga.
Diam-diam tanpa sepengetahuan Angga, siswa kelas 2-B merencanakan sesuatau untuk membantu Angga.
“Angga !!!!!Maju kedepan !!”teriak Bu Rosa.
Seperti biasa Angga dihukum, Angga maju kedepan.Angga siap menerima soal sulit dari Bu Rosa. Angga nggak habis pikir. Dia merasa tidak bersalah. Dia hanya bosan diajar Bu Rosa dan pingin gigit-gigit pulpen saja, tapi dia selalu saja dihukum, Angga jadi sedih.
“Angga!Kamu keterlaluan!!Tau nggak sih, Kamu itu …..!”
Belum selesai Bu Rosa marah-marah, tiba-tiba “JI RO LU PAT ! Ngeong, ngeong!!”ruangan kelas jadi gaduh banget oleh suara ngeong-ngeong kucing yang keluar dari mulut siswa.Spontan saja Bu Rosa panik, jingkrak-jingkrak, sembunyi di kolong meja guru, dan menutupi wajahnya yang ketakutan dengan kedua telapak tangannya. Siswa-siswi ger-geran menertawakan tingkah Bu Rosa. Bahkan ada yang sapi kencing dicelana dan memukul-mukul meja karena gelinya.
“Stoop iiit !!!”Bu Rosa berteriak lantang dan suaranya menggelegar seperti petir. Siswa seremapak berhenti ketawa dan mereka ketakutan.Bu Rosa nongol dari balik kolong meja guru wajahnya mengerikan. Bu Rosa merapikan rambut dan roknya yang berantakan lalu mendekati Angga.”Kamu keterlaluan Angga,!menyuruh teman-temanmu melawan dan ngerjain Aku!”Tubuh BuRosa menggigil hebat, rambut beringinnya njegrak. “Angga!! Berdiri dengan satu kaki sampai pelajaran ini berakhir!”
Angga tersentak mendengar hukuman itu, teman-teman Angga nggak nyangka rencana ngerjain bu Rosa gagal total! ”Ayo cepaaaaatttt!!” bu Rosa menghardik Angga.
Angga berdiri di depan kelas menghadap siswa dan mulai mengangkat satu kakinya dan kedua tangannya diangkat seperti sayap. Eit! Eit! Tubuh Angga bergoyang ke kiri dan ke kanan. Siswa-siswi melihat Angga seperti sedang akrobat menegangkan, Angga berusaha agar bisa berdiri tegak dengan satu kaki sampai satu jam. Tapi baru satu menit Angga sudah tergeletak pingsan.
Siang itu kantor SMU 12 ramai oleh pengunjuk rasa, mereka bukan minta harga BBM diturunkan atau meminta Presiden diganti. Mereka berasal dari kelas 2B.
Dalam suasana yang kacau, ternyata bu Rosalinda bersembunyi di kamar mAngga. Beliau mendengar dengan jelas suara murid-muridnya berteriak di luar.
“Bu Rosalinda harus lengser! Angga diperlakukan tidak adil, bu Rosalinda jangan nonton telenovela melulu, perhatikan nasib Angga,donkk!! Kalau bu Rosalinda tetap menyakiti Angga, kami nggak mau diajar bu Rosa! Bu Rosa kalau gak minta maaf sama Angga, pecat!”
Beliau menutup kupingnya dengan kedua tangannya dan matanya memejam. Beliau gak nyangka hukuman berdiri satu kaki membuat Angga pingsan. Tiba-yiba bu Rosa menoleh ke pintu, seseorang mengetuk pintu.
“Bu Rosa!! Ibu harus hadapi, kami para guru mengerti Bu Rosa tidak sengaja!” Itu suara kepala sekolah. Bagaimanapun bu Rosa nggak ingin keluar dari sekolah yang terlanjur dicintainya ini.
Setelah menghapus air matanya, bu Rosa bangkit dan perlahan membuka pintu kamar mAngga yang dikunci rapat. Dilihatnya diluar pak Kepala Sekolah dan para guru lain tersenyum memberi dukungan kepadanya. Bu Rosa mantap melangkah ke UKS menemui Angga yang terbaring lemas.
“I-ibu guru ?!?!??” Angga gugup dan berusaha duduk “Saya sebenarnya nggak ingin pingsan dan ingin sekali menjawab soal-soal dari Ibu, tapi saya nggak pernah bisa,” Angga menunduk. Bu Rosa baru sadar, kalau Angga sudah berusaha keras.” Ketika Aku memeriksa buku raportmu, aku tahu kamu yatim-piatu. Aku sebenarnya kasihan ke kamu. Tapi semenjak kamu membawa anak kucing itu, aku menjadi begini. Aku dendam ama kamu!! Aku ini phobia kucing. Aku ini ngeri banget ama kucing, karena kata ibuku ketika Aku bayi, seekor kucing mencakar dan mngembat habis rambut lurusku hingga rambutku jadi keriting begini.”
Bu Rosa menarik nafas panjang “Aku berbuat begini untuk menutupi kekuranganku, aku nggak ingin murid-muridku mengejek dan merendahkan aku setelah tahu Aku takut kucing.”
“Tapi sekarang aku sadar, bagaimanapun juga Guru bukan manusia yang sempurna. Kamu mau khan memaafkanku?”
Tapi kemudian Angga tersenyum manis banget.
“Tentu saja, Bu. Saya juga salah karena nggak tau kalau Ibu Phobia kucing. Bagaimanapun Ibu telah mengingatkan saya pada almarhumah Ibu saya. Wajah Ibu mirip dengan wajah Ibu saya dan beliau juga sering menjewer kuping saya kalau saya nakal!” dan bu Rosa tak tahan lagi menangis sederas air hujan.

* * *

Esoknya…..
“Anak-anak! Sekarang ibu mau mengadakan kuis. Tulis di kertas, siapa guru paling kejam di kelas!?” bu Rosa memerintah. Nggak seperti biasanya bu Rosa pake senyum manis segala. Mungkin berkat peristiwa kemarin, Beliau jadi sadar dan mau bersikap ramah sedikit kepada murid-muridnya.
Seisi kelas langsung menuruti perintah bu Rosa dengan semangat. Kemudian kertas-kertas kuis dikumpulkan. Bu Rosa memeriksa satu-persatu tulisan kertas itu. Bu Rosa melotot tak percaya dan mendelik ke arah muridnya.
“Kalian ini keterlaluan!!!” sentak bu Rosa sambil meremas-remas kertas yang ditulis murid-muridnya itu. “Seharusnya kalian berpendapat nggak ada guru yang terkejam!” lalu, masih dengan wajah marah bu Rosa berteriak dengan lantang.
“Hari ini ulangan!!!” seluruh kelas langsung koor menggerutu.
Eeee, tau nggak sih apa isi kertas itu?? Hiii, ternyata semua siswa menulis kalau guru terkejam itu adalah Bu Rosalinda!
Pantas aja Bu Rosa marah-marah! Angga mengeluh, ternyata bu Rosalinda tetaplah bu Rosalinda, meski dirinya sudah pingsan dan didemo mati-matian, sikapnya nggak berubah.

* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *

KATA PENGANTAR

Tiada kata-kata indah yang mampu saya ucapkan, selain ucapan puji syukur Kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala limpahan rahmad dan hidayah-Nya hingga tugas pembuatan CERPEN ini dapat kami selesaikan.
Cerpen yang saya susun ini berjudul “Angga, kucing dan Bu Rosalinda”. Menceritakan suatu kejadian yang benar – benar terjad, tentang keadaan sekolah pada saat-saat sekarang yang diramaikan dengan keberanian siswa untuk ramai, penuh anarki dan ingin kebebasan serta selalu menuntut untuk selalu benar.
Selain itu, cerpen ini juga kami susun sebagai penyelesaian dari tugas yang diberikan oleh bapak Fatkhul Yaqin selaku pengajar untuk mata pelajaran bahasa Indonesia di SMU Negeri 10 Malang ini.
Tak ada gading yang tak retak, begitu pula dengan penyusunan cerpen ini. Untuk itu saya mohon sumbang saran dan kritik dari pembaca sekalian demi kesempurnaannya.
Ucapan terima kasih pun tak lupa saya haturkan kepada semua belah pihak, yang baik secara langsung maupun tidak langsung telah membantu terselesaikannya penyusunan cerpen ini.

Malang, Oktober 2003

Penyusun,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s